Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

22 Sep 2012

Cinta Diam



Cintaku diam
Bukan kata-kata rayuan yang membuat tenggelam
Bukan cerita tentang kebutaan yang kadang mencekam
Cintaku dalam diam
Tak terekam
Seperti bayangan di tengah gelap malam

Cintaku sunyi
Dalam ruang hati yang tak pernah sepi
Bukan kosong yang membuat mati
Mengalun bersama simphoni

Meski keheningan sesekali terusik
Kian mengait sampai nurani berbisik
Bukan untuk berbalik, namun segera tarik

Mendaki dalam helaan nafas yang panjang
Mendeburkan tiap riak menjadi gelombang
Memantul di dinding dalam satu ruang
Terasa seperti merpati yang ingin keluar sarang
Terbang dan melayang dengan riang
Seperti kawanan camar yang selalu berdendang

Iri?
Atau hanya satu imaji?

Cintaku,  bukan semu
Cintaku, menjagaku

CINTAMU, IBU



Cintamu menghangatkan angin
Mendinginkan terik mentari
Melembutkan badai
Melembabkan kemarau

Cintamu bukan semu
Bukan topeng
Bukan palsu
Bukan sekedar tameng

Cintamu nyata
Terpatri dalam hati
Tersentuh oleh nurani
Tercermin dalam tatap

Cintamu,
Dinamis namun bukan metamorfosis
Cara lawas namun klasik
Tak perlu kenal arus modern masa kini
Cintamu bukan untuk untuk mengikuti jaman
Karena cintamu kini, kemarin, dulu, waktu itu, esok, lusa,
selamanya melingkupi aku

Kau
Ibu

KAU PUN SAMA



Aku hanyalah serupa angin yang datang menerpamu
Hanya dari sepersekian babak kehidupanmu
Jikalah bisa membuatmu sejuk
Aku bukan untuk tinggal
Aku akan berlalu
Pasti berlalu
Mengalun dalam zona waktu
Bergerak dan berhembus
Angin tak kan pernah kembali  ketempat yang sama
Jangan kau sesali pertemuan kita
Jangan kau pungkiri hadirku
Aku dalam jejak-jekakku
Bermetamorfosa layaknya kupu-kupu
Aku masih bergerak
Menuju saat dimana aku bukan lagi angin
Tapi nafas

Bolehkanlah



Masih membekas jelas dalam ingatan. Tiap kata dalam kalimat yang mereka ucapkan. Aku bukan membeli, tapi aku meminta. Karna aku tidak punya biaya untuk membelinya. Tiada dayaku. Aku hanya punyai aku. Jiwaku. Milik-Mu. Bolehkah jika kupinta yang lebih baik dariku? Diriku mau, tapi tidak cukup berani. Hanya Engkau yang tahu. Biarkan sekarang ku coba rangkai jiwaku menjadi taman indah untuk memuat nyaman kupu-kupu itu. Meski tak seindah tamannya, tak semegah dan senyaman taman mereka, tapi ini milikku, usahaku, dan jerih payahku. Kiranya bolehlah kupinta kupu-kupu cantik mendiaminya. Hingga setiap metamorfosis kutemani ia. Kiranya, bolehkanlah aku.... Wahai Sang Pemilik kupu-kupu-ku.

UNTUK KAMU



Mengenalmu adalah harapanku
Bersamamu adalah inginku
Berdoa untukmu adalah hal terdekat yang bisa kulakukan untukmu
 Ingin tahu kabarmu yang merisaukanku
Ingin tahu sedang apa kamu yang kian mengacaukanku
Adakah sama denganmu terhadapku?
Rindukah kau padaku?
Apakah kau selalu berdoa untukku?
Ingin tahu semua hal tentangku?
Di sini, aku merangkai kata, tentangmu
Tentang kamu yang entah
Di raga mana jiwamu bersemayam
Temukan aku di sini
Temui aku
Hapuskan semua lara sepiku
Kamu..
Tetaplah dalam kesetiaan
Jaga selalu hatimu
Fikiranmu
Ragamu
Dan mohonlah pada-Nya
Agar aku bisa melakukan hal yang sama denganmu
Kita sama-sama
Sekarang pun sudah bersama
Jiwa kita, saling mendoakan
Untuk sebuah pertemuan yang indah
Hadiah dari-Nya untuk kesabaran kita
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa menguatkan kita
Di tengah hempasan yang kutahu tidak mudah
Karena aku pun rasakan itu
Bertahanlah
Kuatlah
Dan segera  temukan aku
Mohonlah pada-Nya....
Aamiin